RadarKriminal.Nwesz.id, Jember – Permainan tradisional kembali menemukan denyutnya dilereng timur Kabupaten jember . di Desa Ledokombo , langkah-langkah anak-anak yang meniti bambu egrang menjadi simbol bahwa warisan budaya belum hilang ditengah derasnya arus digitalisasi . Festival Egarang Tanoker ke-14 resmi diluncurkan pada senin(11/5/2026). Dengan mengusung Tema ” Membangun Harmoni Komunitas Melalui Permainan Tradisional . Kegiatan budaya tahunan yang telah berkembang. Menjadi gerakan sosial masyarakat itu dihadiri wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI , Nezar Patria , Sekretais Daerah Kabupaten jember. Akhmad Helmi Luqman yang mewakili Bupati jember Gus Fawait , tokoh budaya , komunitas pendidikan, pelaku pariwisata , relawan, hingga masyrakat Ledokombo. Dalam sambutannya , Nezar Patria menegaskan permainan tradisional seperti egrang tetap relevan bagi generasi muda tengah perkembangan teknologi digital yang begitu pesat . Menurutnya, anak-anak saat ini membutuhkan ruang untuk menyeimbang kecerdasan intelektual dan emosional yang sarat nilai kehidupan. ” Permainan egrang menjadikan keberanian, keseimbangan, kerja sama, dan semangat untuk bangkit ketika jatuh. Nilai-nilai seperti ini sangat penting untuk membangun karakter generasi muda Indonesia,” ujar Nezar . Ia menilai Festival Egrang Tanoker bukan sekedar agenda budaya tahunan, melainkan , ekonomi , masyarakat , hingga penguatan identitas budaya lokal . Sementara itu, Akhmad Helmi Luqman menyampaikan apresiasi pemerintah Kabupaten jember atas konsistensi komunitas Tanoker dalam menjaga warisan budaya selama 14 tahun terakhir. “Ditengah derasnya arus globalisasi dan teknologi digital, ada satu hal yang tidak boleh hilang, yaitu jati diri bangsa. Festival Egrang adalah bukti bahwa tradisi tidak pernah kehilangan relevensinya,” katanya . Ia menjelaskan , permainan egrang bukan hanya warisan budaya , tetapi juga media, pendidikan karakter yang mengajarkan keseimbangan hidup, ketekunan, keberanian, fokus, sportivitas , dan kerja sama. Disisi lain , penasehat Tanoker Ledokombo , Suporahrdjo , menceritakan perjalanan panjang Tanoker yang bermula dari gerakan sederhana bersama anak-anak desa hingga berkembang menjadi destinasi wisata budaya yang dikenal secara nasional . Tanoker bahkan pernah menerima penghargaan Indonesia Sustainable Toursm Award pada tahun 2018 atas kontribusinya dalam pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata berbasis komunitas. “Kami tumbuh bersama komunitas , bersama ibu-ibu , lansia, relawan , dan anak-anak muda. Festival ini bukan hanya milik Tanoker , tetapi milik masyarakat,” ungkap Suporahardjo . Selama ini , Festival Egrang Tanoker dikenal bukan sekedar panggung peemainan tradisional ,tetapi juga ruang perjumpaan lintas generasi yang menghidupkan kembali permainan rakyat sebagai sarana pendidikan sosial dan penguatan budaya lokal. (D@ng)