RadarKriminal.Newsz.id, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat – 6 Januari 2026 – Gelombang pertanyaan muncul terkait pengelolaan anggaran di SD Negeri Jaya Sempurna 02 tahun ajaran 2024-2025. Upaya konfirmasi dari awak media menemui jalan buntu, memicu spekulasi tentang transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana pendidikan.
Kepala Sekolah SD Negeri Jaya Sempurna 02, H. Aan Setiandi, saat dikonfirmasi mengenai anggaran tahun 2024, memberikan respons yang mengundang tanda tanya. Melalui pesan WhatsApp, beliau menyatakan, “WA yang masuk ke saya LSM banyak banget… saya puyeng jawabnya… semua minta merapat. Waktu saya juga terbatas. Tugas saya melaksanakan perintah dinas. Kalo saya jawab dan melayani semuanya kerjaan saya ga selesai-selesai. Saya bukan sombong.”
Pernyataan yang lebih mengejutkan terlontar, mengindikasikan bahwa dana BOS diduga habis untuk kepentingan oknum LSM dan wartawan. Tudingan serius ini tentu membutuhkan klarifikasi dan pertanggungjawaban dari pihak terkait, khususnya H. Aan Setiandi.
Dugaan praktik korupsi dalam pengelolaan anggaran di SD Negeri Jaya Sempurna 02, yang terletak di Bekasi, menjadi sorotan tajam. Alokasi dana yang mencapai ratusan juta rupiah disinyalir tidak transparan, memicu pertanyaan dari berbagai pihak.
Berdasarkan data yang dihimpun, SD Negeri Jaya Sempurna 02 menerima anggaran sebesar Rp207.760.000 pada tahap pertama tahun 2024, diikuti dengan Rp206.961.174 pada tahap kedua. Pada tahun 2025, sekolah kembali menerima kucuran dana sebesar Rp207.270.000. Dengan demikian, total anggaran yang diterima oleh sekolah hingga tahun 2025 mencapai angka yang fantastis, yaitu Rp621.991.174.
Salah satu pos anggaran yang menjadi sorotan utama adalah alokasi untuk pengembangan perpustakaan. Pada tahap pertama tahun 2025, anggaran yang dialokasikan mencapai Rp87.079.000. Sementara itu, pada tahap pertama tahun 2024, anggaran untuk pos yang sama mencapai Rp90.144.900. Besarnya anggaran ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas dan transparansi penggunaan dana tersebut.
Publik bertanya-tanya, bagaimana dana sebesar itu digunakan, dan apakah hasilnya sepadan dengan anggaran yang dikeluarkan? Apakah perpustakaan tersebut benar-benar ada dan berfungsi sebagaimana mestinya?
Upaya konfirmasi dari awak media kepada Kabid Dinas Pendidikan, Pranoto, juga menemui jalan buntu. Menurut informasi yang diperoleh, Pranoto selalu tidak berada di tempat dengan alasan sedang keluar. Situasi ini semakin memperkuat dugaan adanya upaya untuk menghindari sorotan publik terkait masalah ini.
Seorang pengamat politik, HT, memberikan komentarnya terkait situasi ini. Ia menduga adanya “lingkaran setan” yang membuat pihak-pihak terkait enggan memberikan keterangan kepada awak media. Pernyataan ini menambah kompleksitas masalah dan memunculkan pertanyaan tentang kemungkinan adanya pihak-pihak yang berusaha menutupi fakta yang sebenarnya.
(YANTO BS)