JAKARTA, RadarKriminal.Newsz.id— Mengira sudah mengetahui siapa dalang di balik rangkaian pembunuhan hanya dari trailer? Jangan terlalu percaya diri.
Film horor-misteri terbaru besutan sutradara Hanung Bramantyo, Lobang Buaya.,menyiapkan sejumlah plot twist yang dirancang untuk mengecoh dugaan penonton. Cuplikan trailer berdurasi sekitar dua menit bukan sekadar rangkuman cerita, tetapi juga menyimpan berbagai petunjuk yang dapat mengarahkan penonton pada dugaan yang keliru.
Hal tersebut terungkap dalam gelaran Gala Premiere film Lobang Buaya di Epicentrum XXI, Jakarta. Suasana studio yang mendadak senyap dan tegang turut menambah atmosfer mencekam film yang diproduksi melalui kolaborasi Adhya Pictures dan Dapur Film tersebut.
Film yang mengusung genre horor-misteri dengan latar sejarah itu dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026
Gala Premiere tersebut dihadiri langsung oleh Hanung Bramantyo selaku sutradara, bersama sejumlah pemeran utama, di antaranya Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Anya Zen, serta aktor senior Mathias Muchus.
Teror Setiap Tanggal 30, Sejarah Bertransformasi Menjadi Mimpi Buruk
Mengambil latar waktu satu tahun sebelum tragedi 1965, Lobang Buaya tidak hanya mengandalkan unsur horor supernatural. Film ini berfokus pada penyelidikan seorang perwira muda bernama Letnan Soegeng, yang diperankan Baskara Mahendra.
L
Letnan Soegeng diterjunkan ke wilayah terpencil Desa Lobang Buaya untuk mengusut sebuah kasus kriminal yang menggemparkan. Satu per satu orang penting dan tokoh berpengaruh di desa tersebut ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan dengan luka yang memiliki pola tertentu.
Kengerian semakin meningkat ketika Soegeng menemukan pola pembunuhan yang terjadi secara teratur. Eksekusi maut selalu berlangsung tepat pada tanggal 30 setiap bulan.
Warga desa pun hidup dalam ketakutan. Ketika kalender mendekati tanggal 30, siapa pun dapat menjadi korban berikutnya. Tidak ada tempat yang benar-benar aman.
Hanung Tegaskan Batas antara Fiksi dan Sejarah
Menanggapi sorotan publik mengenai penggunaan genre horor dalam film tersebut, Hanung Bramantyo menjelaskan bahwa Lobang Buaya bukan film yang bermaksud menceritakan kembali tragedi 30 September 1965 dalam bentuk horor.
Menurut Hanung, unsur horor digunakan sebagai bahasa sinematik untuk menggambarkan dendam dan trauma akibat kejahatan yang terjadi dalam dunia fiksi film.
Ketika cerita bergerak menuju 30 September 1965, film tersebut kemudian bersinggungan dengan sebuah peristiwa sejarah yang jauh lebih besar daripada kisah para tokoh fiksinya. Karena itu, Hanung mengatakan dirinya sengaja memberikan batas yang jelas antara cerita fiksi dan fakta sejarah.
Film tersebut merupakan karya fiksi yang menggunakan sebuah peristiwa sejarah sebagai titik temu antara cerita personal dan ingatan kolektif.
Di hadapan para tamu undangan Gala Premiere, Hanung menyampaikan pandangannya mengenai pendekatan yang digunakan dalam film tersebut.
“Saya memahami jika ada orang yang merasa pendekatan horor tidak tepat. Itu adalah pandangan yang sah. Tetapi saya berharap pilihan genre tidak otomatis dianggap sebagai bukti bahwa pembuat film tidak memiliki empati. Bagi saya, empati terhadap sejarah bukan hanya soal memilih genre yang dianggap serius.”
Hanung kemudian menjelaskan landasan moral di balik penggarapan cerita tersebut.
“Saya membuat film ini bukan untuk menertawakan tragedi. Saya membuatnya untuk bercerita tentang bagaimana dendam dan kekuasaan dapat meninggalkan teror yang jauh lebih panjang daripada kehidupan orang-orang yang menciptakannya.”

Ia melanjutkan:
“Dan ketika film ini sampai pada 30 September 1965, saya ingin penonton berhenti sejenak dan menyadari bahwa sebuah cerita fiksi sedang berhadapan dengan sebuah tragedi sejarah. Di situlah batas antara fiksi dan sejarah menjadi penting, dan di situlah tanggung jawab saya sebagai pembuat film.”
Baskara Mahendra Ikut Terkecoh dengan Plot Twist
Kekuatan naskah dan teka-teki dalam film ini juga diakui pemeran utama, Baskara Mahendra.
Memerankan Letnan Soegeng yang harus mengungkap motif kriminal di tengah situasi Indonesia era 1960-an menjadi tantangan tersendiri bagi Baskara.
Ia mengungkapkan bahwa sejak membaca draf naskah hingga menjalani proses syuting, dirinya beberapa kali terkecoh oleh skenario yang dirancang Hanung Bramantyo.
> “Memerankan Soegeng benar-benar pengalaman yang sangat unik bagi saya. Di film ini saya harus bermain peran di latar yang tidak familiar dengan saya, yaitu Indonesia tahun 1960-an. Mengikuti investigasi Soegeng dengan banyaknya plot twist di film ini adalah pengalaman yang seru banget. Bahkan saya yang ikut main filmnya nggak bisa nebak siapa dalangnya,” tutur Baskara Mahendra.
Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa teka-teki dalam film tidak hanya diarahkan kepada penonton, tetapi juga menjadi tantangan bagi para pemain selama proses penggarapan.
Jangan Tertipu Trailer
Bagi penikmat film yang gemar menyusun teori dari trailer dan media sosial, Lobang Buaya tampaknya sengaja memberikan sejumlah petunjuk yang dapat menimbulkan berbagai dugaan.
Namun, cerita yang disajikan dalam film memiliki sejumlah lapisan misteri. Setiap karakter yang hadir, mulai dari tokoh masyarakat, pejabat lokal, aparat keamanan hingga warga desa, memiliki peran dan rahasia masing-masing.
Di Desa Lobang Buaya, penonton akan diajak mempertanyakan siapa yang sebenarnya dapat dipercaya dan siapa yang berada di balik rangkaian pembunuhan tersebut.
Film Lobang Buaya dijadwalkan tayang di XXI, CGV, Cinepolis, dan jaringan bioskop di seluruh Indonesia mulai 1 Oktober 2026.
Informasi mengenai film, termasuk konten dan perkembangan terbaru, dapat diikuti melalui kanal media sosial resmi @filmlobangbuaya, @adhyapictures, dan @dapurfilm.