Sebuah kasus pembunuhan yang dilakukan dengan cara yang sangat sadis telah menggemparkan warga Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Pelaku, berinisial MS (50), menikam dua korban hingga tewas di Lingkungan Pekanglabbu, Kecamatan Pallangga, pada Minggu (2/11) malam. Kasus ini tidak hanya mengejutkan masyarakat setempat, tetapi juga memicu perhatian luas terhadap praktik ritual pesugihan yang sering dikaitkan dengan kejahatan.
Kapolres Gowa AKBP M Aldy Sulaiman menyatakan bahwa pihaknya segera bertindak setelah menerima laporan insiden tersebut. “Kami langsung bergerak cepat ke lokasi setelah menerima laporan. Tim melakukan olah TKP, mengamankan barang bukti, sekaligus menangkap pelaku di sekitar wilayah Pallangga,” ujarnya. MS kini ditahan di Polres Gowa untuk pemeriksaan lebih lanjut mengenai motif penikaman terhadap korban Amir (59) dan Rahim (43), yang merupakan mertua dan menantu.
Penyidikan awal mengungkapkan bahwa pelaku terpengaruh minuman keras saat kejadian berlangsung. Insiden berdarah ini bermula dari keributan yang ditimbulkan korban Amir bersama rekannya, yang mengganggu kenyamanan MS. Perdebatan yang memanas berujung pada penikaman menggunakan sangkur, menyebabkan kedua korban tewas di tempat.
Kapolres menegaskan pentingnya menghindari konsumsi minuman keras dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. “Jajaran Polres Gowa tentu akan menindak tegas setiap tindakan kekerasan yang merenggut nyawa,” tambahnya. Saat ini, situasi di lokasi kejadian telah kondusif dengan kehadiran personel kepolisian yang disiagakan untuk menjaga keamanan dan mencegah potensi kejadian serupa.
Kasus pembunuhan ini menunjukkan bagaimana praktik ritual pesugihan bisa berujung pada tindakan kekerasan yang tidak terduga. Di beberapa daerah, seperti Kebumen, Jawa Tengah, ditemukan kasus serupa di mana seseorang membunuh korban dengan dalih ritual pesugihan. Dalam kasus itu, tersangka Wahid (27) mengaku bisa membuat kaya siapa saja setelah melakukan ritual khusus. Namun, ritual pesugihan yang dilakukan justru berujung maut setelah korban meminum racun yang disediakan tersangka dengan dalih air doa.
“Pelaku melakukan ritual pesugihan dan menggunakan sarana air mineral yang dibacakan doa seolah-olah sebagai bagian dari ritual pesugihan yang mana air mineral tersebut sudah dicampur potassium sianida untuk diminum oleh korban sehingga korban meninggal dunia,” ungkap Kapolres Kebumen, AKBP Eka Baasith. Pembunuhan Seorang Kepala SD ini menjadi contoh lain bagaimana ritual pesugihan bisa mengarah pada tindakan keji yang melibatkan penggunaan racun dan manipulasi spiritual.

Di balik mitos dan cerita tentang pesugihan, banyak orang percaya bahwa ritual ini membutuhkan tumbal atau pengorbanan tertentu. Salah satu elemen paling terkenal dari mitos pesugihan Gunung Kawi adalah penggunaan “wedhus kendit” sebagai tumbal. Kambing ini memiliki ciri khas berupa corak berwarna putih melingkar di bagian perutnya, yang menyerupai sabuk. Konon, kambing ini adalah syarat utama dalam ritual tertentu untuk mendapatkan kekayaan atau jabatan.
Namun, meskipun banyak cerita tentang tumbal dan ritual pesugihan, para pengelola situs seperti Gunung Kawi menegaskan bahwa tempat ini adalah lokasi ziarah, bukan tempat pesugihan. “Gunung Kawi ini memang sudah melekat dengan istilah pesugihan. Tapi, sebetulnya tempat ini bukan tempat pesugihan, melainkan tempat ziarah. Para peziarah yang berkeinginan berziarah itu tawasul, mendoakan para leluhur, yang ujung-ujungnya memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar hajatnya terkabul,” tegas Jono, salah satu penjaga makam.

Kasus-kasus seperti ini memperlihatkan betapa kompleksnya hubungan antara keyakinan spiritual dan tindakan nyata. Meski ada yang percaya bahwa ritual pesugihan bisa membawa keberuntungan, banyak yang menganggapnya sebagai mitos yang berpotensi menjerumuskan orang ke tindakan keji. Penyidikan terhadap kasus pembunuhan di Gowa dan Kebumen menunjukkan bahwa polisi akan terus menindak tegas segala bentuk kekerasan yang terjadi, terlepas dari alasan atau motifnya.
Dampak sosial dari kasus-kasus seperti ini sangat besar, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kejadian. Kepercayaan terhadap ritual pesugihan bisa memicu tindakan yang tidak terduga, dan hal ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk selalu waspada dan menghindari praktik-praktik yang tidak jelas. Selain itu, kasus ini juga memicu diskusi tentang pentingnya pendidikan dan kesadaran masyarakat terhadap bahaya-bahaya yang tersembunyi di balik keyakinan spiritual.
Polisi terus memantau situasi dan akan melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap pelaku serta mencari informasi lebih lanjut mengenai motif dan modus operandi dari tindakan kekerasan ini. Publik masih menantikan hasil penyelidikan lebih lanjut dan tindakan hukum yang akan diambil terhadap pelaku.