Sebanyak 27 pengungsi etnis Rohingya yang sebelumnya tinggal di kamp penampungan sementara di Kompleks Kantor Bupati Aceh Barat, Provinsi Aceh, dilaporkan kabur pada dini hari Sabtu (1/5/2024). Peristiwa ini memicu kekhawatiran warga setempat dan menimbulkan pertanyaan tentang keamanan serta pengelolaan para pengungsi.
Kepala Dinas Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Barat, Azim, mengonfirmasi bahwa semua pengungsi Rohingya yang ditampung di belakang kantor bupati telah melarikan diri. “Benar, semua warga etnis Rohingya yang selama ini ditampung di belakang kantor bupati semuanya telah melarikan diri,” ujarnya saat dikonfirmasi Antara di Meulaboh.
Azim menjelaskan bahwa para pengungsi kabur sekitar pukul 04.30 WIB, ketika kawasan tersebut dilanda hujan lebat dan petugas yang berjaga tertidur. Saat petugas hendak melakukan pengecekan, mereka menemukan kamp dalam kondisi kosong. “Para imigran ini diketahui melarikan diri ketika petugas hendak melakukan pengecekan ke kamp dan ditemukan kamp dalam kondisi kosong,” kata Azim.
Selain itu, Azim menyebutkan bahwa kamp penampungan yang telah kosong tersebut hanya meninggalkan beberapa pakaian milik imigran Rohingya, sementara barang lainnya telah dibawa oleh para pengungsi. Ia juga mengatakan telah melaporkan peristiwa tersebut ke pimpinan daerah setempat.
Peristiwa ini terjadi setelah sebelumnya, pada Jumat (31/5/2024), sebanyak 16 orang pengungsi Rohingya juga kabur dari kamp pengungsian. Dengan kaburnya 27 orang imigran Rohingya tersebut, maka saat ini tidak ada lagi para imigran tersebut di Kabupaten Aceh Barat.
Kehadiran para pengungsi Rohingya di Aceh sejak beberapa bulan lalu telah menjadi isu yang menarik perhatian masyarakat. Sebelumnya, ribuan pengungsi Rohingya merapat ke sejumlah pantai Provinsi Aceh sejak pertengahan November lalu, yang kini menuai perdebatan di antara warga Indonesia.
Beberapa warga Aceh menolak menerima kedatangan pengungsi Rohingya ini lantaran disebut kerap membuat masalah, seperti melarikan diri dari penampungan hingga mengeluh saat menerima makanan. Menko Polhukam Mahfud MD menyebut jumlah pengungsi Rohingya di Indonesia saat ini mencapai 1.478 orang, tersebar di penampungan sementara di Aceh, Medan, hingga Pekanbaru.
Menurut Mahfud, tempat penampungan sementara di Pekanbaru dan Medan kini sudah penuh serta kehabisan dana. Oleh sebab itu, pemerintah tengah mencari solusi untuk mengatasi membludaknya para pengungsi Rohingya di Indonesia, salah satunya dengan mengembalikan mereka ke negara asal, yakni Myanmar.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Mutiara Pertiwi, menjelaskan bahwa para pengungsi Rohingya pada dasarnya sudah bermigrasi dalam beberapa gelombang selama puluhan tahun. Mereka sering menggunakan rute darat ke Bangladesh atau rute laut ke negara-negara Asia Tenggara, terutama Malaysia.
Namun, pada 2015, kasus perdagangan manusia mengemuka setelah kuburan massal para korban ditemukan. Kebanyakan korban berasal dari etnis Rohingya di perbatasan Thailand dan Malaysia. Sejak itu, ada patroli perbatasan yang lebih ketat di kedua negara tersebut sehingga kelompok Rohingya seringkali terkatung-katung di laut dan akhirnya sampai ke perairan Indonesia.
Mutiara menuturkan bahwa para pengungsi Rohingya banyak yang pada akhirnya ‘nekat’ bermigrasi dengan jaringan nelayan atau bahkan perdagangan dan penyelundupan hanya untuk mencari tempat aman guna melanjutkan hidup. Dia menekankan bahwa paradigma “keamanan tinggi” yang sangat dominan di perbatasan mempersepsikan siapa pun yang membantu pengungsi atau pencari suaka di laut sebagai jaringan perdagangan atau penyelundupan.
Peristiwa kaburnya para pengungsi Rohingya dari kamp penampungan di Aceh Barat memperkuat kekhawatiran warga lokal akan keamanan dan pengelolaan para pengungsi. Meskipun pemerintah dan lembaga internasional seperti UNHCR dan IOM terus berupaya untuk menangani situasi ini, masih ada tantangan besar dalam memastikan keberlanjutan dan kenyamanan bagi para pengungsi.
Saat ini, pemerintah sedang mencari solusi untuk mengatasi masalah pengungsi Rohingya, termasuk relokasi ke penampungan yang lebih layak. Namun, hingga saat ini, belum ada kejelasan tentang tindakan lanjut yang akan diambil.
