Pada Senin (28/10), demonstrasi ratusan mahasiswa di Kendari, Sulawesi Tenggara, berubah menjadi ricuh setelah massa melemparkan kotoran sapi dan batu ke arah aparat kepolisian. Aksi unjuk rasa yang digelar oleh Forum Mahasiswa Sultra Bersatu (Formasub) berujung pada bentrokan sengit antara mahasiswa dan polisi, dengan sejumlah barang seperti ban dan benda-benda lain dibakar di sekitar lokasi. Insiden ini memicu perhatian publik terhadap kinerja aparat dalam menangani aksi protes yang dilakukan mahasiswa.
Kronologi kejadian dimulai dari perempatan jalan depan Mapolda Sultra, tempat para mahasiswa berkumpul untuk menyampaikan tuntutan mereka. Mereka menginginkan agar Kapolda Sultra mempercepat pengusutan kasus kematian dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO), Randi dan Yusuf, yang meninggal dunia saat demo berdarah pada 26 September lalu. Demonstrasi awalnya berlangsung damai, namun situasi memburuk ketika polisi mencoba membubarkan massa menggunakan water canon dan gas air mata. Respons mahasiswa pun datang dalam bentuk lemparan batu dan kotoran hewan.
Menurut Kabid Humas Polda Sultra AKBP Harry Goldenhardt, beberapa anggota polisi terkena lemparan kotoran sapi yang dibungkus plastik bening. Ia menyertakan foto dokumentasi sebagai bukti. “Itu beberapa dokumentasi kotoran/tinja yang dilemparkan massa pengunjuk rasa ke personel pengamanan,” ujar Harry melalui pesan WhatsApp. Selain itu, Direktur Polisi Air (Dirpol Air) Polda Sultra Kombes Pol Andi Anugrah terkena lemparan batu hingga mengeluarkan darah dari mulutnya dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Bentrokan terjadi mulai dari perempatan depan Mapolda Sultra hingga bundaran tank Anduonohu, sekitar satu kilometer dari kantor polisi. Aksi unjuk rasa berlangsung hingga malam hari, dengan mahasiswa masih berkumpul di depan kampus Politeknik Kendari sambil membakar ban dan sejumlah barang. Sementara itu, dua warga yang kedapatan membawa senjata tajam jenis badik dan mata busur diamankan polisi, meskipun mereka bukan bagian dari massa aksi mahasiswa.
Unsur korupsi, kolusi, dan nepotisme tidak secara langsung muncul dalam insiden ini, tetapi konteks demonstrasi terkait dengan tuntutan terhadap transparansi dan akuntabilitas pihak berwenang. Mahasiswa menilai bahwa proses penyelidikan kasus kematian dua rekan mereka dinilai lamban dan tidak objektif. Hal ini memicu kekecewaan yang meluas di kalangan masyarakat, khususnya di lingkungan pendidikan.
Reaksi publik terhadap insiden ini sangat kuat, terutama di media sosial. Banyak netizen menyampaikan dukungan kepada mahasiswa, sementara sebagian lain mengkritik tindakan anarkis yang dilakukan oleh sebagian massa. Beberapa hashtag seperti #KendariRicuh dan #MahasiswaTuntutKeadilan mulai viral, menunjukkan tingkat kepedulian masyarakat terhadap isu ini.
Pernyataan resmi dari berbagai pihak menunjukkan bahwa kepolisian telah melakukan langkah-langkah tertentu untuk menangani situasi ini. Mabes Polri telah melaksanakan sidang disiplin terhadap enam polisi yang diduga melakukan pelanggaran dalam pengamanan unjuk rasa mahasiswa di Kendari pada 26 September lalu. Sidang tersebut menyatakan keenam anggota Polres Kendari bersalah karena membawa senjata api saat mengamankan aksi demonstrasi. Mereka dikenakan sanksi mulai dari teguran lisan hingga penundaan kenaikan pangkat.
Dampak dari insiden ini cukup signifikan, terutama terhadap kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian. Bentrokan yang terjadi menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan masyarakat akan keadilan dan realitas yang terjadi di lapangan. Selain itu, situasi ini juga memicu pertanyaan tentang standar operasional pengamanan demonstrasi yang diterapkan oleh aparat.
Hingga saat ini, status terbaru dari kasus ini masih dalam proses investigasi. Pihak berwenang diharapkan dapat memberikan jawaban yang jelas dan transparan terkait tuntutan mahasiswa serta langkah-langkah yang akan diambil untuk mencegah terulangnya insiden serupa. Publik tetap menantikan respons resmi dari pihak terkait, termasuk pengumuman hasil sidang disiplin dan langkah-langkah pencegahan kekerasan dalam demonstrasi.