Sebanyak 44 warga di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum setelah diduga mabuk kecubung oplosan. Kejadian ini menimbulkan kegaduhan dan kerusakan pada fasilitas umum akibat perilaku anarkis para remaja yang terlibat.
Peristiwa ini bermula pada Jumat (5/7/2024), ketika sejumlah remaja mengonsumsi kecubung campuran zat berbahaya. Sebagian dari mereka mengalami halusinasi parah, sehingga memicu tindakan tidak terkendali. Para remaja tersebut kemudian melancarkan aksi pengrusakan terhadap fasilitas umum seperti lampu jalan, tempat duduk, dan area publik lainnya.
Menurut Kasi Humas dan Informasi RSJ Sambang Lihum, Budi Harmanto, sebanyak 44 pasien dirawat dengan kondisi kesehatan jiwa yang memprihatinkan. Dari jumlah tersebut, dua orang meninggal dunia, sementara sisanya masih dalam perawatan. “Ada yang tidak sadarkan diri, ada yang masih sadar tapi meracau,” ujar Budi.
Budi juga menyebutkan bahwa dokter harus memberikan obat penenang kepada para pasien. Namun, karena dosis obat yang berbeda-beda, beberapa pasien mengalami efek samping berat. Ia belum bisa menjelaskan detail apakah kecubung itu dicampur dengan zat lain, karena para pasien masih dalam kondisi tidak stabil dan belum bisa dimintai keterangan.
Kronologi kejadian menunjukkan bahwa para remaja mulai mengalami gejala mabuk kecubung sejak Jumat pagi. Pihak RSJ menerima pasien-pasien tersebut secara bertahap. Dari total 44 pasien, sembilan di antaranya menjalani rawat jalan, sedangkan sisanya menjalani rawat inap. Proses pemulihan membutuhkan waktu sekitar dua minggu.
Dampak dari kasus ini sangat signifikan. Tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga merusak infrastruktur publik. Aksi para remaja yang tidak terkendali menciptakan rasa takut dan khawatir di kalangan masyarakat. Banyak warga mengkhawatirkan kejadian serupa terulang kembali, terutama jika penggunaan kecubung oplosan semakin marak.

Reaksi masyarakat dan media sosial terhadap kejadian ini sangat keras. Banyak netizen menyampaikan kekecewaan terhadap tindakan para remaja yang tidak bertanggung jawab. Beberapa komentar viral menyoroti pentingnya pencegahan penggunaan narkoba dan kecubung oplosan. Tagar seperti #BanjarmasinMabuk dan #KecubungOplosan menjadi trending di media sosial.

Pihak berwenang, termasuk polisi dan dinas kesehatan, telah mengambil langkah-langkah untuk menangani situasi ini. Polisi sedang melakukan penyelidikan terkait asal usul kecubung oplosan yang dikonsumsi para remaja. Sementara itu, dinas kesehatan berupaya meningkatkan edukasi masyarakat tentang bahaya penggunaan zat berbahaya.
Selain itu, pihak RSJ Sambang Lihum juga berkomitmen untuk memberikan perawatan optimal bagi para pasien. Dokter-dokter di rumah sakit tersebut bekerja sama untuk memastikan kondisi kesehatan jiwa para pasien dapat pulih secara bertahap.
Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya pengawasan dan pencegahan penggunaan narkoba serta kecubung oplosan. Meskipun kecubung biasanya digunakan sebagai obat tradisional, penggunaannya yang tidak terkontrol dan dicampur dengan zat lain sangat berbahaya. Diperlukan kesadaran kolektif dari masyarakat, keluarga, dan pemerintah untuk menghindari risiko serupa di masa depan.
Saat ini, status para pasien masih dalam pemantauan. Pihak rumah sakit dan pihak berwenang terus berkoordinasi untuk memastikan semua korban mendapatkan perawatan yang layak. Publik juga sedang menantikan hasil investigasi lengkap terkait asal-usul kecubung oplosan dan tindakan hukum yang akan diambil terhadap pelaku.